Bergerak mikro, berpikir makro.

fuckyeahbeyonceknowles:

RIP Etta James

fuckyeahbeyonceknowles:

RIP Etta James

Source: fuckyeahbeyonceknowles

Text

Sejak kecil kita sudah ditanami budaya bercita-cita. Dari kita mulai bisa berbicara kita sudah dipertanyakan masalah cita-cita. Kalau dulu ditanyai cita-cita kebanyakan anak kecil akan menjawab dengan perihal jabatan atau pekerjaan. Contohnya jadi dokter, insinyur, astronot, presiden dan seterusnya. Itu juga cita-cita. Tapi tidak hanya itu.

Beranjak dewasa, persepsi masing-masing dari kita mulai berkembang dan meluas bahwa cita-cita itu bukan hanya kita mau menjadi apa, melainkan sesuatu yang kita inginkan atau sesuatu yang ingin kita miliki. Contohnya keliling dunia, membahagiakan orang tua, punya banyak uang dan sebagainya. Tapi ternyata itu pun masih kurang lengkap.

Semakin dewasa lagi, cita-cita yang ada di angan-angan kita semakin liar. Tidak jarang orang-orang mempunyai cita-cita yang menurut saya aneh seperti ingin jadi killer whale, superhero, jadi istri tentara, punya anak lebih dari sepuluh, dan sebagainya. Persepsi kita tentang cita-cita pun semakin abstrak tidak sekedar perihal “menjadi” atau kepemilikan yang nyata.

Cita-cita tidak pernah ada batasnya. Tidak pernah terhitung jumlahnya. Tidak pernah terbayang bagaimana caranya kesana. Memang ada yang sudah terbayang rancangan makro dari mengejar suatu cita-cita. Tapi ketika dihantam dengan desain mikro, hambatannya terlalu banyak. Namun yakin dengan rancangan makro sehingga rancangan mikro tidak menjadi penghalang yang nyata.

Ternyata, cita-cita adalah suatu goal yang dimiliki semua orang, yang dibuat sendiri oleh orang tersebut, yang digapai melalui tahapan-tahapan yang nyata. Bukan sekedar berharap. Melangkah. Walaupun setapak-dua tapak. Tapi nyata. Sehingga tidak ada cita-cita yang terlalu muluk. Atau tidak mungkin. Karena dari tapak ke tapak selanjutnya pasti ada sesuatu yang kita pelajari dan sifatnya “nagih”. Bahkan ada yang menemukan cita-cita dibalik cita-cita sebelumnya. Sampai atau tidak itu urusan nanti, hak Yang Maha Kuasa. Tapi dari proses, sampai atau tidak, lebih atau kurang, pasti akan memuaskan kalau kita menapak sendiri dan mensyukuri apa yang sudah kita tapak. Sehingga akhirnya cita-cita itu akan terasa seperti terpenuhi sendiri. Tanpa beban. Tanpa paksaan. Tanpa sadar.

Bercita-citalah. Tanpa batas.

Kita tapaki cita-cita kita.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah,

sampai waktu menghentikan langkah kita.

(via dianhala)

Source: observando

chachamaricha:

cyberputz:

seribubangau:

dhitao:

selalu tergoda kalo liat putu mayang
wandering-ish:

That awkward moment when cakwe’s picture looks misleading..


waaa… jajanan pasarnya unyu unyuuu :3

gemes gemes gemes :D

LEMPER!!!

nyameh!

chachamaricha:

cyberputz:

seribubangau:

dhitao:

selalu tergoda kalo liat putu mayang

wandering-ish:

That awkward moment when cakwe’s picture looks misleading..

waaa… jajanan pasarnya unyu unyuuu :3

gemes gemes gemes :D

LEMPER!!!

nyameh!

Source: admiralsaber

(via laplume)

Source: omgitscorey

[Flash 9 is required to listen to audio.]

Janelle Monae

Janelle Monae, Say You’ll Go

Text

Setelah hidup bersama dengan banyak orang dari banyak daerah asal, banyak yang bilang kalau Orang Jakarta itu gini dan gitu. Frontal, berisik, ga difilter, kasar, bahkan sampai ga punya hati dan jahat.

Gw sebagai orang Jakarta kurang lebih setuju sih dengan pernyataan-pernyataan teman-teman. Kami itu memang kalau ngomong suka ga diayak, asal nyeblak, ga pake mikir panjang.

F-R-O-N-T-A-L.

Tapi kami hanya berlaku begitu kepada orang-orang terdekat. Kenapa?

Mungkin karena Jakarta itu keras ya. Itu fakta. Karena Jakarta itu memang seperti medan perang di Indonesia Raya ini. Sebagai pusat dari aktivitas ekonomi di Indonesia, hidup di Jakarta memang menjadi tantangan tersendiri bagi Homo sapiens. Tingkat kesintasan di tempat tersebut sangat sulit untuk diperjuangkan dan memerlukan modifikasi perilaku yang cukup kompleks untuk tetap sintas dan memenangkan kompetisi. Sama halnya seperti orang-orang yang tinggal di ibu kota-ibu kota di seluruh dunia.

Kami, sebagai anak-anak yang dibesarkan oleh pejuang-pejuang kehidupan yang tinggal di Jakarta, sudah pasti akan termodifikasi perilakunya menyesuaikan dengan apa yang kita indera. Di jalanan Jakarta saja kita bisa lihat bahwa orang-orang mempunyai kosa kata yang sangat variatif dalam mengekspresikan perubahan fisiologis yang dihasilkan atas kontak antar individu. Sesuatu yang bersifat hayati apabila kami harus melakukan adopsi perilaku dari lingkungan untuk tetap bertahan.

Kami terbiasa dengan fleksibilitas perilaku yang berkembang di sekitar kami. Maka apabila ada suatu perubahan lingkungan kami harus segera menyesuaikan diri dan memodifikasi lagi perilaku kami.

Dan kami akan membantu teman-teman kami dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui modifikasi perilaku. Oleh karena itu, kami akan melakukan kontak dengan dosis yang cukup tinggi terhadap orang-orang terdekat kami agar perubahan perilaku segera dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang terus berkembang dan mengganas.

Dosis akut itulah yang seringkali diinterpretasikan sebagai perilaku frontal.

Tapi hal itu hanya kami lakukan kepada orang-orang terdekat.

Karena kami perduli,

bukan karena kami ingin menghancurkan kalian.

Jadi gw mewakili seluruh musafir dari Jakarta mohon maaf kalau sekiranya suka nyelekit dan frontal. Itu semua karena kami peduli dengan orang-orang terdekat kami. *Oooooooooouuuuwwwhh……

laplume:

fuckyeahmahasiswa:

ngeluh mulu di dunia maya,nugas kaga
dari adlymelahapdunia

JLEEEBBB.. HAHAHA. MARI BELAJAR UNTUK UAS YANG LEBIH BAIK

woops.

laplume:

fuckyeahmahasiswa:

ngeluh mulu di dunia maya,nugas kaga

dari adlymelahapdunia

JLEEEBBB.. HAHAHA. MARI BELAJAR UNTUK UAS YANG LEBIH BAIK

woops.

Source: fuckyeahmahasiswa

laplume:

wooow. ladieess, behave. i love both of you..

Tampol aja Del! Lady Gaga suka berisik. and I think she stole the look of Amy Winehouse.

Source: 13eloved