
Sedikit bocoran, film ini menceritakan tentang anak muda yang tadinya hobi main game online dan berhasil menjual beberapa item dari permainan tersebut ke banyak orang dengan harga yang lumayan edan untuk sesuatu yang sifatnya maya. Benda pertama dia jual seharga 500 SGD. Berlanjut menjadi penjaja benda maya sampai akhirnya akunnya dalam permainan tersebut dihapus oleh sang penguasa game dan dia berhenti main game.
Setelah berhenti bisnis di dunia maya dia mencoba sesuatu yang lebih real yaitu jualan DVD. Tapi ternyata 50 pemutar DVD yang dia beli seharga 500 baht per satuannya tidak lain adalah barang butut yang rusak dalam beberapa hari. Disuruh melanjutkan sekolah oleh ayahnya dan dibiayai oleh ayahnya dia malah marah dan menolak uang yang disediakan ayahnya untuk sekolah. (what a spoiled brat!)
Dengan gengsinya dia menolak uang yang disediakan ayahnya untuk sekolah, dia sembunyi-sembunyi mencuri JIMAT ayahnya untuk dijual seharga 100.000 baht yang (near at the end of the story we will recognize that) ternyata harganya 3-4juta baht. Uang 100.000 itu dipakai untuk beli alat pemanas chestnut.
Akhirnya dia mencoba jual chestnut di pasar swalayan dengan pegawai pertama yaitu pamannya sendiri. Hampir berhasil dengan membuka 10 cabang sampai akhirnya dia diusir oleh pengurus pasar tersebut karena asapnya merusak langit-langit pasar swalayan.
Ayah dan Ibunya memutuskan untuk pindah ke China untuk hidup bersama kakak-kakak dari anak muda ini. Namun si anak muda malah marah-marah kepada kedua orangtuanya karena diberitahu dengan sangat mendadak. Menolak untuk pindah akhirnya dia ditinggal sendiri di Bangkok dan dibiayai sekolah serta hidup oleh ayahnya yang bijak dan dermawan namun terjerat hutang 40miliar baht.
Dengan semangat membayar hutang serta membeli kembali jimat yang ia gadaikan akhirnya ia mencoba berjualan rumput laut TAO KAE NOI setelah beratus-ratus kali gagal dalam percobaan menggoreng rumput laut. Percobaan tersebut sangat brutal bahkan sampai membuat pamannya terluka dan masuk rumah sakit. Akhirnya dia bekerja sama dengan 7eleven untuk menjual TAO KAE NOI.
For short he became very successful (= very rich) selling the famous TAO KAE NOI. After 2 years he successfully own a algae culture field in South Korea and get 1,5billion baht per year.
Lebih singkatnya lagi, dia jualan di game online gagal, mau jual dvd gagal sebelum berperang, jual chestnut diusir dari mall, jual rumput laut berhasil!
Kalau dihitung dari waktu saya masuk sampai saya keluar teater bioskop Blitz Megaplex PVJ, film ini kurang lebih memakan waktu 2,5 jam dan ditengah-tengah film saya dan kakak-kakak saya sudah merasa bosan dan ingin segera keluar dari teater karena alurnya yang sangat lambat dan terlalu bertele-tele.
MENURUT SAYA,
film ini cukup motivatif namun tidak inspiratif. Kenapa? karena sungguh di film ini diajarkan bagaimana kita harus kuat dan jangan putus asa dalam mengembangkan bisnis tapi tidak diajarkan bahwa kita juga harus cerdas dalam berbisnis. Bahwa sebenarnya dalam menjual produk bisa dilakukan riset terlebih dahulu. Bukan hanya riset mengenai pasar namun juga mengenai produk yang dipasarkan. Mungkin ada sedikit pelajaran tentang itu namun tidak begitu dominan dalam film ini.
Selain itu menurut saya terlalu banyak adegan dimana dia berlaku kurang ajar kepada ibu dan bapaknya. Padahal ibu dan bapaknya hanya ingin dia sekolah dengan baik dan mendapatkan gelar yang pantas dan tidak akan mengganggu bisnisnya apabila dia menyelesaikan sekolahnya dengan baik.
Kesuksesan yang dia miliki tidak lain didapatkan dari keberuntungan dan kegigihan yang diracik sedemikian rupa dengan dibumbui tekanan-tekanan hingga matang dan menjadi keuntungan. Namun bukan dari melakukan apa yang dia cintai atau dari niat untuk memperjuangkan sesuatu yang besar. Sehingga sukses yang didapatkan dan dinyatakan di film ini sedikit tercitra sebagai sesuatu yang dangkal yaitu uang. Nggak salah juga sih, secara uang juga penting kan?. Tapi kesuksesan itu akan lebih terasa wah apabila dilakukan dalam apa yang kita gemari.
Memang saya juga sampai sekarang juga belum mencicipi rasanya kesuksesan namun saya ingin bahwa kesuksesan yang kita hasilkan tidak dirasakan oleh kita sendiri namun juga oleh banyak orang. Dan alangkah baiknya bahwa sukses yang kita dapatkan tidak dinilai dari nominal kekuasaan yang dibuat oleh manusia namun nominal tidak nyata namun pasti terasa yang dibuat oleh Yang Maha Kuasa. Sehingga sukses itu adalah berapa besarkah peranan dan perbuatan kita yang berdampak langsung kepada kesejahteraan masyarakat. Dan ketika kita merasa sukses kita tidak akan merasa sukses dan akan terus mengejar kesuksesan nyata yang hanya dimiliki oleh Yang Maha Kuasa. (akh, berisik lo Ar! sok tau!)
Bagi yang kepingin nonton, lebih baik beli DVDnya sehingga apabila ada adegan-adegan yang terlalu lambat atau bertele-tele bisa dilompat. Dengan begitu film ini mungkin akan lebih menyerap dan lebih mudah dinikmati. Jangan lupa sediakan kudapan sebagai teman nonton. Karena 2,5 jam depan tv akan membuat anda (menurut saya, SANGAT) lapar.
Terima kasih telah membaca. atau sekedar melihat. atau sekedar melompat.
Terima kasih.