Sejak kecil kita sudah ditanami budaya bercita-cita. Dari kita mulai bisa berbicara kita sudah dipertanyakan masalah cita-cita. Kalau dulu ditanyai cita-cita kebanyakan anak kecil akan menjawab dengan perihal jabatan atau pekerjaan. Contohnya jadi dokter, insinyur, astronot, presiden dan seterusnya. Itu juga cita-cita. Tapi tidak hanya itu.

Beranjak dewasa, persepsi masing-masing dari kita mulai berkembang dan meluas bahwa cita-cita itu bukan hanya kita mau menjadi apa, melainkan sesuatu yang kita inginkan atau sesuatu yang ingin kita miliki. Contohnya keliling dunia, membahagiakan orang tua, punya banyak uang dan sebagainya. Tapi ternyata itu pun masih kurang lengkap.

Semakin dewasa lagi, cita-cita yang ada di angan-angan kita semakin liar. Tidak jarang orang-orang mempunyai cita-cita yang menurut saya aneh seperti ingin jadi killer whale, superhero, jadi istri tentara, punya anak lebih dari sepuluh, dan sebagainya. Persepsi kita tentang cita-cita pun semakin abstrak tidak sekedar perihal “menjadi” atau kepemilikan yang nyata.

Cita-cita tidak pernah ada batasnya. Tidak pernah terhitung jumlahnya. Tidak pernah terbayang bagaimana caranya kesana. Memang ada yang sudah terbayang rancangan makro dari mengejar suatu cita-cita. Tapi ketika dihantam dengan desain mikro, hambatannya terlalu banyak. Namun yakin dengan rancangan makro sehingga rancangan mikro tidak menjadi penghalang yang nyata.

Ternyata, cita-cita adalah suatu goal yang dimiliki semua orang, yang dibuat sendiri oleh orang tersebut, yang digapai melalui tahapan-tahapan yang nyata. Bukan sekedar berharap. Melangkah. Walaupun setapak-dua tapak. Tapi nyata. Sehingga tidak ada cita-cita yang terlalu muluk. Atau tidak mungkin. Karena dari tapak ke tapak selanjutnya pasti ada sesuatu yang kita pelajari dan sifatnya “nagih”. Bahkan ada yang menemukan cita-cita dibalik cita-cita sebelumnya. Sampai atau tidak itu urusan nanti, hak Yang Maha Kuasa. Tapi dari proses, sampai atau tidak, lebih atau kurang, pasti akan memuaskan kalau kita menapak sendiri dan mensyukuri apa yang sudah kita tapak. Sehingga akhirnya cita-cita itu akan terasa seperti terpenuhi sendiri. Tanpa beban. Tanpa paksaan. Tanpa sadar.

Bercita-citalah. Tanpa batas.

Kita tapaki cita-cita kita.

Selangkah, dua langkah, tiga langkah,

sampai waktu menghentikan langkah kita.